Banyak Kampus Sudah Disusupi Radikalisme - BERITA HARI INI

Breaking

Selasa, 29 Mei 2018

Banyak Kampus Sudah Disusupi Radikalisme

Spanduk bahaya laten radikalisme di kawasan Jl Malioboro, Yogyakarta, Selasa (15/5/2018). BNPT menyatakan, paham radikalisme sudah menyusupi banyak kampus di Indonesia.
BERITA HARI INI - Paham radikalisme diduga sudah menyusupi banyak kampus di Indonesia. Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamli mengatakan hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar paham radikalisme.
"PTN itu menurut saya sudah hampir kena semua (paham radikalisme), dari Jakarta ke Jawa Timur itu sudah hampir kena semua, tapi tebal-tipisnya bervariasi," kata Hamli dalam diskusi di Jakarta, Jumat (25/5/2018) seperti dikutip dari CNN Indonesia.
BNPT membeberkan, Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Insitut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) sudah disusupi paham radikalisme.
Dia menjelaskan pola penyebaran paham radikalisme yang berkembang di lingkungan lembaga pendidikan saat ini sudah berubah.
Awalnya penyebaran paham tersebut dilakukan di lingkungan pesantren. Namun kini, kampus negeri maupun swasta jadi sasaran empuk bagi penyebar radikalisme. "PTN dan PTS yang banyak kena itu di fakultas eksakta dan kedokteran," ungkap Hamli.
Salah satu kasus mahasiswa kedokteran yang diduga terlibat dalam jaringan ISIS adalah ZN dari Unair.
Bahkan dosen juga diduga ikut terpapar dan ikut terpengaruh. Suteki, profesor bidang hukum Undip, Semarang bahkan tengah diperiksa majelis etik karena unggahannya yang pro-khilafah.
Ia menyatakan bukan anggota HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang sudah dilarang. Tapi ia mengaku membuat tagar khilafah di media sosial. "Karena itu memang ajaran Islam. Tapi soal HTI, (seperti) HTI ada di hati atau apa itu, enggak ada, bisa dicari itu," kata Suteki, seperti dikutip dari Metrotvnews.com, Rabu (23/5/2018).
Rentannya kampus oleh ideologi radikalisme ini seturut dengan analisis peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Anas Saidi. Kepada Jakarta Post, pada Februari 2016, Anas menjelaskan, mahasiswa jurusan eksakta lebih mudah terkena dampak paham radikalisme karena menurut mereka, pemahaman soal agama tak perlu didiskusikan. "Latar keilmuwan mempengaruhi pola pikir mereka," ujar Anas.
Anas juga mendapati hal serupa dalam penelitiannya bersama Prof Dr Masykuri Bakri, yang bertajuk Peta Radikalisme Agama di Indonesia: Analisis Kritis terhadap Dinamika Politik Mahasiswa Dan Masa Depan Demokrasi Di Indonesia.
Ia meneliti 5 kampus di Jawa, yakni Universitas Indonesia (UI) di Jakarta, Institut Pertanian Bogor (IPB) di Bogor, Universitas Gaja Mada (UGM) di Yogyakarta, Universitas Erlangga (UNAIR) di Surabaya dan Universitas Brawijaya (UNIBRAW) di Malang.
Hasilnya, organisasi mahasiswa yang diilhami oleh Ikhwanul Muslimin dari Mesir telah mendominasi 5 kampus tersebut. Mahasiswa jurusan eksakta mudah menerima ajaran dengan tegas mudah menerima anjuran Ikhwanul Muslimin.
Jika ditemukan tokoh-tokoh organisasi mahasiswa yang diilhami Ikhwanul Muslimin yang berasal dari jurusan sosial politik, umumnya mereka sudah terdidik sejak aktif Rohani Islam (ROHIS) di SMA-SMA.
Maka, tak mengherankan jika organisasi pro khalifah mayoritas di IPB, ITB, ITS dan fakultas-fakultas eksakta lainya, tetapi mendapatkan perlawanan ketat di fakultas-fakultas sosial-politik dan budaya, baik di UGM, UNAIR, maupun Brawijaya.
Pengamat Pendidikan Universitas Hassanudin, Makassar Adi Suryadi memaparkan kenapa fakultas eksakta cenderung berpola pikir konservatif dan bisa menjurus radikal. Sebabnya sistem pendidikan di jurusan eksakta yang fokus pada kognitif siswa. Sementara, pendidikan karakter yang melibatkan aspek afektif tidak mendapatkan tempat dan penerapan khusus.
“Keterbukaan pikiran siswa itu lebih didasarkan pada pembentukan karakter. Bukan hanya tentang kognitif, tapi juga melibatkan sisi afektif,” kata Adi kepada VICE Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar